Renungan

Segumpal Darah Yang Tak Berhenti Berdendang

Engkau tahu segumpal darah yang tak berhenti berdegup itu?

Engkau degupkan untuk siapa pada setiap detaknya?

Engkau detakkan untuk soal apa pada setiap denyutnya?

Engkau denyutkan untuk urusan apa segumpal darah itu?

Yang bahkan engkau tak tahu bagaimana mulanya ia berdetak? Kapan awalnya ia berdegup? Dan bagaimana detaknya mampu menjaga seluruh denyut kehidupanmu? Apakah detak itu yang menghidupimu? Atau kehidupanmu yang membuatnya berdetak?

Dengar, resapi, dan jangan asingkan detaknya. Karena degup itu yang menghidupkanmu. Jangan heningkan denyutnya engkau akan lebih tahu Bahwa ia adalah segumpal darah yang tak berhenti berdendang. Tapi …

 

Engkau dendangkan untuk siapa setiap syair yang mengalun di dalamnya?

Engkau alunkan untuk siapa pada setiap tembang yang mengalir di dalamnya?

Engkau alirkan untuk siapa pada setiap lagu yang bergemercik di dalamnya?

Engkau gemercikkan untuk siapa pada setiap kidung yang bergetar di dalamnya?

Dan engkau getarkan untuk siapa pada setiap nyanyian yang mengalun, mengalir dan bergemercik dalam seluruh lagu yang hidup dalam segumpal darah itu?

Waktu engkau kecil mungkin permainan menyibukkanmu atau engkau terlalu sibuk bermain jadi tidak penting bagi anak kecil untuk mengingat atau merenungi yang begitu begitu. Tapi engkau pasti tahu bahwa detakan dari segumpal darah itu yang membuat engkau tumbuh. Denyutan dảri segumpal darah itu yang mengantarkanmu ke setiap detik kehidupan selanjutnya. Setiap degupnya mengantar engkau ke jembatan demi jembatan masa pertumbuhan mu.

Ketika engkau telah matang dan dewasa sebagian darimu ada yang memperlakukannya sebagai biro jodoh. Engkau letakkan segumpal darah itu kepada siapa saja yang engkau suka. Engkau percayakan begitu saja kepada yang bukan pemiliknya, engkau serahkan bulat bulat kepada yang bukan haknya? Apakah itu definisi yang hanif (lurus) dari sebuah kematangan dan kedewasaan?

Lucunya lagi ketika segumpal darah itu berdarah-darah karena di remukkan oleh dirimu sendiri atau oleh seseorang yang bukan haknya atau oleh orang yang engkau percayakan segumpal darah itu untuk di rawat, di jaga, atau dicintai tapi malah luka yang menganga yang engkau dapat lalu engkau datangi pencipta-Nya. Baru Engkau mengiba-iba kepada pencipta Nya, meminta luka dan belati yang menancapi segumpal darah itu untuk di cabut. Engkau baru merintih rintih kepada Pemilik-Nya, melolong serta memohon gemuruh petir yang merobek ketenangan disana di cabut. Apakah itu arti tanggung jawab?

Ini sama saja dengan engkau menghutangi orang tapi menagihnya kepada yang lain. Apakah dengan begitu akan datang ketenangan dalam hidup?

Berbaik baik lah meletakkan atau mempercayakan segumpal darah itu, ia bukanlah musium cinta tempat engkau koleksi siapapun dan apapun yang engkau suka dan senangi. Ia juga bukan “pasar loak jodoh” tempat limbah asmara masa lalu di simpan serta digudangkan. Bahkan jika engkau menyerahkannya tanpa didasari ingatan kepada pemilik Nya maka siap-siapkan segumpal darah itu akan menjadi rumah duka untukmu. Tempat kau berkabung dan terus mengutuki takdir dan meratapi hidup.

Sebagai yang dititipi engkau harus merawatnya agar sehat dan bahagia. Agar ia terus tumbuh penuh dengan detakan rasa syukur.

Bisakah engkau bayangkan akan bísa tumbuh jika ia malas berdetak? Sekiranya satu atau dua jam saja ia demo untuk emoh bẻrdetak. Otakmu akan shock. Tubuhmu akan dilanda gempa. Lalu seperti beras yang diayak di atas tampah maka begitulah guncangan yang melanda seluruh elemen tubuh. Seluruh aliran listrik di dalam tubuh akan liar berloncatan. Darahmu akan mendidih. Seluruh lapisan otot menggigil, tulang belulangmu kejang-kejang. Beku kemudian menjalari setiap inci tangan dan kaki. Lantas menjadi yatimlah jasadmu.

Mungkin engkau tahu untuk orang dewasa segumpal darah itu berdetak 70 kali per menit, sementara jantung anak-anak berdetak kurang lebih 90 hingga 120 kali per menit. Satu jam terdiri dari 60 menit, dan dalam sehari terdapat 24 jam. Bila ditotal, 60 dikali 24 maka terdapat 1.440 menit. Jadi gumpalan darah itu untuk manusia dewasa berdetak 100.800 kali per hari. Dan jantung anak-anak berdetak antara 129.600 hingga 172.800 kali sehari!

Jadi jelas dalam sehari ia berdendang sebanyak seratus ribu delapan ratus kali. Dan dari sẻratus ribu delapan ratus kali detakan itu bẻrapa puluh ribu kali engkau degupkan nama Pemilik Nya? Atau Berapa ratus ribu kali dalam sehari engkau lupakan Pencipta-Nya? Astagfirullah….!

Postingan ini ditulis oleh :

Aa Djamaludin

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*