Majlis Kopi,Renungan

Poligami Yang Disukai Allah dan Dicintai Istri II

Poligami Untuk menyelamatkan Keluarga

Ada beberapa kasus dimana suami mengambil poligami sebagai jalan untuk menyelamatkan anak dan keluarga. Iwan sebut saja begitu adalah suami yang dibesarkan dalam tradisi agama yang kuat. Sementara istrinya dibesarkan dalam tradisi miskin agama. Iwan dididik bahwa keberhasilan itu ketika manusia sukses menjalankan perintah Allah sementara istrinya memandang kesuksesan itu adalah mobil yang terparkir di garasi rumah yang megah, rekening yang gendut serta aset yang gemuk tapi liabilitas (pengeluaran sehari-hari) mengecil.

Hubungan Mereka sering bertabrakan. Iwan sering merasa kepala ingin pecah karena kerap mengalami penolakan kala diajak beribadah. Ia menangis karena istrinya lebih memilih terlelap dari pada melayani raksasa bernama syahwat yang kadang bangkit tiba-tiba. Ia menangis karena merasa istrinya lebih mencintai profesinya dan uang. Ia menangis istrinya tak mempan di nasehati. Ia menangis dengan bergetar karena istrinya kerap masuk dalam ketegori istri yang dilaknat para malaikat.

Apa yang ditakutkan suami selain bahwa ada bagian dirinya yang yang dikutuk malaikat? Singkatnya Iwan menikah lagi ia memilih jalan ini untuk melindungi diri sendiri dari kecup zina yang memabukkan. Ia sebenarnya ingin menceraikan istrinya. Namun, ia khawatir dengan perbuatan halal tapi dibenci Allah ini akan berimbas buruk pada anak.  Jika bercerai, hak mengasuh anak akan jatuh pada istri. Bagaimana jika ibu dari anaknya kelak menikah lagi dengan suami yang tidak soleh. Lalu anaknya akan dibesarkan dan dididik dalam tradisi yang jauh dari agama.

Maka Iwan memilih menikah lagi karena beberapa pertimbangan sederhana itu. Istri keduanya kini adalah wanita salehah yang sangat taat pada suami. Ia bahagia. Tapi dalam bahagia itu  ada sebersit khawatir datang. Sebab poligami  ini bukan sekedar amal nikmat tanpa resiko. Ia seperti menanggung gunung di atas “pundak” yang lemah. Karena adil adalah hal yang simpel tapi kompleks. Ibarat satu mobil yang terpaksa dibelah untuk meniti dua jalan yang berbeda. Iwan menelan bulat-bulat dua kerumitan ini.

Tidak semua poligami bikin enak suami. Kalau boleh memilih ikhwan akan menceraikan istri mengambil alih hak asuh anak dan beribadah dengan tenang bersama istri barunya yang salehah. Tapi hidup kadang bergerak dan menari di atas luka. Kadang tak berpihak dengan keinginan kita, maka iwan memilih jalan ini. Sebuah jalan yang dibenarkan ayat suci. Tapi ayat poligami ini sering “di tendang” oleh mayoritas para istri.

Meski demikian alangkah bijak jika qiyas tentang siapa yang paling kita sayang, siapa yang paling dimuliakan itu kembalikan ke ayat suci. Dimana Allah menciptakan milyaran manusia. Beragama suku, budaya, pangkat dan jabatan. Dari sekian yang banyak itu Allah hanya satu golongan yang paling di sayang, satu golongan yang paling dimuliakan Allah yaitu :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al-Hujurat: 13)

 

Ayat ini menjadi sandaran bagi manusia untuk memperlakukan siapa yang paling disayang. Sebab sangat tidak bijak jika istri yang bertakwa lantas disamakan perlakuannya dengan istri yang tidak bertakwa. Namun begitu, lebih baik untuk tidak berpoligami jika tidak dalam kondisi darurat. Kecuali kehidupan rumahnya tangga memang terperosok dan masuk dalam kondisi la yahya wa yamut. Mati tidak, hidup pun tidak.

Poligami Yang Disukai Istri

Namun begitu ada poligami yang juga di senangi istri. Menurut Ustadz Muhammad Nur Jayadi tidak semua poligami dibenci istri. Tidak tanggung tanggung mudarris yang juga Pengasuh Yayasan Cikiwul Bekasi ini memiliki “tiga istri”. Anggota Dewan Redaksi Majalah Matahati ini juga membagi waktu yang unik untuk tiga istrinya. Tapi jangan bilang-bilang siapa-siapa ya, kalau ia sudah ”berpoligami!”

Ustadz yang juga mengasuh beberapa majelis ta’lim di daerah Bekasi ini membagi hari-harinya dalam tiga episode. Episode Pertama mulai dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam atau kadang sampai jam sembilan malam, ia sibuk dengan “istri” kedua. Dari jam  Sembilan malam hingga kadang sampai jam 4 malam ia sibuk dengan “istri” ketiga. Dan istri pertamanya mendapat jatah dari 4 malam sampai jam tujuh pagi. Adilkah ini?

Para musuh poligami pasti ingin “mencakar” lelaki yang melakukan tindakan seperti ini. Tapi berhubung istri pertamanya ridha atas kondisi ini. Atas sistem pembagian waktu tersebut. Maka dari sudut pandang kemanusiaan itu sudah dinamakan adil. Adil dimaknai sebagai sebuah kesepakatan, keridhaan dan keikhlasan berbagai pihak. Jelaslah betapa adil itu sederhana.

Istrinya pun ridha karena karena dalam sehari hanya mendapat jatah waktu hanya 3 jam. Dari jam 4 malam sampai jam tujuh pagi. Pada “istri kedua”nya Ustadz Nur, mengalamatkan seluruh tenaga, cinta dan waktunya. Tidak tanggung-tanggung istri kedua ini menyedot waktu sampai 12 jam dari waktu yang ada padanya. Inilah istri yang beliau rawat sejak kecil lalu ia “nikahi”. “Istri keduanya” tinggal tak jauh dari rumah, namanya: Yayasan al-Hamidiyah. Sekolah tempat ia mengajar dan belajar dengan spirit dan cinta yang tumpah ruah

Sedang “istri ke tiganya” lebih sering tinggal  se rumah dengan istri pertama. Awalnya sempat cekcok. Karena istri ketiga ini menyedot waktu istirahat malam ustadz. Tapi dengan santun ustadz Nur meluruskan bahwa siapa yang mampu menolak takdir Allah. “Kalau  mampu menolak ini silahkan tolak. Silahkan usir takdir ini,” begitu tegas ustadz Nur kepada istri pertamanya. Belakang istri pertamanya mulai nrimo. Dan mereka makin rukun dan asoy.

Wajar kalau istri pertamanya komplen. Sebab istri ketiga ini memang tak tahu waktu. Kadang jam dua malam minta perhatian, dialog, curhat lalu minta solusi atas problem hidup dan lain sebagainya. Namun inilah jalan takdir yang harus ia lalui dengan riang dan ikhlas. Sebab terselip kebahagiaan juga ketika mampu memberi solusi atas segala kerumitan hidup “istri ketiganya” ini.

 Bukan itu saja Ustadz Nur memandang bahwa ini lah ladang amal. Sawah kehidupan tempat ia bercocok tanam kebaikan. “”Istri ketiganya” itu adalah jamaah  pengajian, para murid, kawan, atau saudara seagama yang sering minta nasehat atau “berobat” ketika tubuh atau atau jalan takdir mereka mengalami kesakitan. Hadeuh, jelas lha poligami model begonoh mah di sayang Allah dan disukai para istri!

Postingan ini ditulis oleh :

Nurjayadi

162 komentar untuk “Poligami Yang Disukai Allah dan Dicintai Istri II

  1. Pingback: URL

  2. strona

    Thanks a lot for the helpful content lotopyeer. It is also my opinion that mesothelioma cancer has an really long latency time period, which means that signs of the disease won’t emerge until finally 30 to 50 years after the original exposure to asbestos. Pleural mesothelioma, that’s the most common style and impacts the area around the lungs, could potentially cause shortness of breath, torso pains, including a persistent coughing, which may produce coughing up bloodstream.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*