Hikmah

Muhammad Ali dan Pertarungan Sengit KPK Versus Polri

Muhammad Ali adalah kupu-kupu singa di atas ring. Ini patut diteladani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam seni berlaga. Ali adalah singa ring yang berseteru mengadopsi gaya kupu-kupu. KPK berpencak sebagai cicak. Lalu polri beradu jotos sebagai buaya.

Dalam konteks kegaduhan KPK versus Polri saat ini lantas siapakah kelak yang akan mewariskan ghanimah kemenangan ini? Jika kesengitan terus berlangsung sambung menyambung, maka koruptor dan kelompok kepentingan yang akan berpesta dan kegirangan. Rakyat tersisa menjadi abu dan dua institusi hukum itu menjadi arang.

Sebab KPK yang terlanjur beruntung di stigma sebagai lembaga setengah malaikat akan mengalami poses pencicakkan jilid dua oleh ksatria hukum yang bermutasi menjelma buaya. Sampai sampai Anas Urbaningrum terbelalak ketika mengetahui salah satu pimpinan KPK, Bambang Wijayanto yang di cokok angota Polri pada Jum’at 23 Januari 2015 silam. “Koq malaikat di tangkap polisi?”

Mantan Ketua Partai Demokrat itu sedikit membutuhkan tenaga untuk percaya bahwa orang baik, yang bermuasal dari lembaga setengah malaikat bisa diangkut anggota Polri. Pada celah lain pernyataan di atas dapat dimaknai bahwa realitas tak sadik itu hanya sebagai tontonan” lenong hukum” ala aparat penegak yang lucu dan tumpul. Kita patut “bangga” cuma Indonesia yang memiiki polisi sakti mandra guna. Polisi di negara mana yang bisa menjaring malaikat? Ini bagaimana matematika nya?

Penangkapan Bambang itu ditafsiri masyarakat sebagai kegatalan Polri atas penetapan calon Kepala Polisi (Kapolri)pada 13 Januari 2015 sebagai tersangka kasus korupsi. Di sisi lain, penetapan status itu terkesan ujug-ujug, genit dan melampaui kelaziman. Dalam “sunah” KPK biasanya mekanisme penetapan calon tersangka, apalagi pada maqam pejabat tinggi negara, terlebih dulu ditetapkan sebagai saksi.

Entah kegenitan macam apa? Sehingga KPK begitu gatal meng-knock out Budi Gunawan sebagai tersangka dalam kasus suap dan tidak membeberkan “pengantin” lain sebagai tersangka. Lantas siapa menyuap siapa? Siapa di suap siapa?

Tapi Samad mengaku sudah lama menahan diri. Sudah lebih dari 6 bulan KPK melakukan penyelidikan pada Budi Gunawan terhadap kasus mencurigakan saat ia menjabat kepala biro pembinaan karir dan jauh jauh hari sudah mengusulkan bahwa yang bersangkutan sudah di spidol merah KPK, “Siapa orang dan transaksi dan caranya, mohon maaf belum bisa di jelaskan karena yang bisa dijelaskan adalah hasil ekspos dan di keluarkan sprindik (surat perintah penyidikan) tapi kami pastikan akan dirumuskan didakwaan,” Bambang Wijayanto menambahkan

Kegatalan penetapan ini, terlepas dari dendam politik Abaraham Samad atau tidak, cukup relevan mengingat belum lagi dilantik sebagai kepala,pihak polri menimbulkan kegaduhan yang saling silang sengkarut. Para cerdik tapi tidak cendikia di DPR juga malah turut bikin becek dan mengail di air keruh. Meski nihil dukungan anggota dewan dari Partai Demokrat. Mereka meluluskan seserpih tersangka korupsi untuk jabatan seluhur Kapolri. Aduh ibu bagaiamana nasib dunia persilatan dan anggota pramuka nanti?

DPR yang semestinya menjadi wasit agung kekisruhan ini pada gilirannya “berbaik hati” mengiring bola panas kembali ke Presiden Jokowi. Presiden tak kalah siasat, pelantikan Kapolri baru ditunda. Tapi belum lagi khatam masa bakti Jendral Sutarman sebagai Kapolri, Presiden sudah memberhentikan nya secara terhormat dan menaikkan wakilnya sebagai kepala pejabat sementara Polri. Bau sangit keputusan presiden ini lantas semerbak dimana-mana. Ada apa dengan “selimut politik” engkau hai presiden?

Sebagai warga negara yang baik kita mesti berbaik hati menempatkan praduga elok yang setara. Terlepas dari ada ular di balik batu keputusan anggota DPR yang telah mengijazahkan langkah Budi Gunawan mendaki kursi tertinggi Polri ini, mereka memiliki kebaikan yang sungguh -meminjam istilah Rhoma Irama- terlalu.

Sungguh terlalu kebaikan hati “para wasit” yang terhormat ini ketika di komparasikan dengan calon panglima hansip pada level RT/RW yang di duga mencuri ayam tetangga, umpamanya, jangankan di undang untuk uji kelayakan, bau pesing yang melesat-lesat dari kriminalitas kecil itu sudah cukup membuat kursinya diyatimkan. Bahkan sebelum proses seleksi sidang di mahkamah RT/RW. Lantas ada udang macam apa yang bersembunyi pada batu-batu di dalam kepala setiap anggota DPR yang meluluskan tersangka korupsi itu ?

Sebagai babu nya rakyat, eh,mandataris rakyat, DPR sejatinya berlaku adil, jernih jujur dan kstaria. Kalau malas, gantungkanlah sarung tinju politik kalian. Lalu nyantri lah kepada Muhammad Ali. petinju yang tidak takut karirnya mringkel dan keriput. Ini tercermin ketika ia mampu dengan jujur dan jernih mengumandangkan keislamannya di tengah badai rasis dan sentimen dangkal tentang isu keagamaan warga Amerika ketika itu.

Belajarlah kepada Ali yang berani menentang badai, bahkan ketika ia di haruskan wajib militer tapi malah menolak dan bersitegas bahwa ia tak ada percekcokkan dengan Vietcong-Vietcong itu “Dan takada satu pun Vietcong yang memanggilku dengan Niger.” Demikian kata Ali

Meski ia harus menggantung sarung tinju selama 4 tahun karena keputusan kontroversi itu. Setidaknya, ia tetap bangga mengenang keputusannya, karena tidak ikut bergotong royong menyumbang dosa serta kekalahan di perang Vietnam. Sebab di sana superioritas Amerika ditelanjangi dan dikebiri habis-habisan

Begitu pun kepada KPK, Polri, para badut politik dan nyonya besar yang bersimaharaja di balik lenong politik yang lucu ini, ingatlah Indonesia bukalah ring tinju apalagi pertarungan Rumble in The Jungle. Kalau engkau semua tetap enggan berubah mari kita sama-sama belajar menyudahi kelakar tentang hidup yang penuh dengan tinju dan darah. Lantas khusu berdoa agar dijauhkan dari lelucon pertarungan paling berdarah dalam sejarah hidup Ali, “Pertarungan yang paling sengit dalam hidupku adalah dengan istri pertamaku,” Begitu kata Ali sebagaimana dikutip Roger Dawson dalam buku Secrets of Power Persuasion.

Pertarungan sengit kita Bukan dengan KPK, Polri, Nyonya besar, atau dengan istri pertama Ali, tapi dengan kejahatan di luar-dalam sistem serta di berbagai lembaga kenegaraan kita yang sudah sangat berurat nanah dan membuat bangsa ini terhuyung berdarah-darah.

Postingan ini ditulis oleh :

Aa Djamaludin

50 komentar untuk “Muhammad Ali dan Pertarungan Sengit KPK Versus Polri

  1. sewa dehumidifier

    Calon kapolri kita tidak seharusnya menculik wakil KPK, itu perbuatan yang tidak mencerminkan hal positif, bayangankan saja seorang wakil KPK aja berani dia tentang dan dia tangkap, bagaiamana mau orang seperi ini mendengarkan suara atau keluahan rakyat kita

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*