Lab. Bisnis

Modal Kecil Tapi Hasil Raksasa

Author: Asep Djamaludin

Amin kesal terhadap Istri yang selalu mendewakan uang. Dan inilah yang selalu terjadi setiap pagi di rumah mereka yang kecil dan kumuh. Ketika pertama membuka mata satu hal yang pertama di lakukan istrinya adalah mendorong gerobak jualan ke depan rumah. Bukan mengurusi anak, apalagi suaminya. Terlebih lagi mengurusi perintah-perintah Allah

“Salat Subuh tidak, cuci muka juga tidak, langsung dorong gerobak bikin malu saja,”

“Masa bodo ah,” kata istrinya

“Saya malu tahu” sembur Amin

“Malu sama siapa?”

“Malu sama iler kamu. Masa malu sama presiden.” Begitu amin menasehati. Belum lagi amin menyelesaikan bicara, istrinya sudah meletus seperti mercon,

“Tidak ada sejak zaman Nabi Musa harus malu sama presiden. Kenal ngga. Kasih duit ngga. Kenapa juga harus malu?”

“Kita tidak sedang membicarakan presiden yang kita bicarakan adalah: ubah kebiasaan burukmu. Runtuhkan persepsimu tentang cara mengail rezeki seperti itu. Cekatan boleh. Usaha itu mulia. Tapi usaha dan bisnis tak lebih dari “jala iblis” ketika tidak pamit, izin, laporan atau berdoa dulu kepada Allah. Sebab usaha tanpa doa tak lebih dari sebuah bentuk lain dari kesombongan. ”

“Tapi kan cara hidup aku ini menghasilkan duit. Dibanding kamu. Posisi aja suami tapi ngga bisa cari duit. Sudah berapa bulan kamu menganggur? Sudah berapa bulan kamu tidak menghasilkan uang? Sudah berapa bulan kamu…”. di serang seperti itu Amin sewot, “ Itu gerobak aku yang bikin. Modal usaha dari hasil keringat aku juga. Bertahun-tahun aku mengumpulkan uang sebagai kuli proyek. Kamu masih juga tidak menganggap ini kerja kerasku,” Amin merasa harga diri dan kelelakian dalam dirinya di preteli.

Selain itu tambah Amin, “Aku pun masih bantu bantu menjaga dagangan, untuk menukupi kebutuhan kita….” belum selesai Amin bicara istrinya kembali meledak. “Mencukupi katamu? Heloo, mencukupi apa?”

Amin pergi membawa amarah sambil bergumam, ”Kalau ada yang berkenan, istri kaya begini harus di tuker tambah. Ngga usah tuker tambah, tuker rugi juga tidak apa apa,” Amin menggerutu.

Ekonomi kadang jadi biang keladi kekisruhan rumah tangga. Untuk beberapa perempuan harapan yang paling dominan yang di ingini kaum perempuan adalah ekspektasi mereka yang tinggi terhadap kenyamanan ekonomi. Sementara orientasi pria terhadap pasangannya adalah melulu soal pemenuhan hasrat batin. Untuk beberapa kasus kekurangan ekonomi selalu saja menjadi katup pembuka perselihan antar suami istri.

Namun demikian, pada tingkat lain, ekonomi yang cukup juga tidak menjamin kebahagiaan kehidupan rumah tangga. Banyak lelaki yang baik. Lantas berubah menjadi Grandon atau vampire ketika kaya raya. Gaya nya se tinggi menara. Istri hanya dicukupi dengan uang dan ia merasa kewajibannya untuk membahagiakan istrinya telah rampung. Edannya lagi ketika ia berusaha membagikan “kebahagiaan” berupa rezeki berlebih itu dengan istri orang dan merusak keharmonisan rumah tangga yang lain.

Lantas harus bagaimana menyelesaikan dua soal yang rumit ini? Sesungguhnya, letak kunci permasalahan ada pada keberkahan, demikian menurut Abdurrahman bin Auf. Sahabat yang paling banyak bersedekah ini malah mengatakan tidak penting logika ekonomi atau keuntungan itu berjumlah besar, kecil atau berlebihan, “Dulu.. Aku selalu ridho dengan laba yang sedikit,” demikian kata sahabat yang juga konglomerat. Inilah kuncinya ketika kita ridho dalam hal ekonomi yang kurang atau sedikit. Maka Allah akan menurunkan keberkahan.

Ketika keberkahan ada, sering kali kita dapati hal-hal yang melampaui nalar meruntuhkan logika ekonomi. Karena keberkahan adalah dalil di seputar modal yang sedikit tapi membuahkan hasil yang raksasa. Keberkahan juga adalah sebuah tema tentang orang-orang biasa dengah hati yang luar biasa. Sehingga dengan keluar-biasaan itu banyak hal-hal yang mengagumkan lahir. Seperti ketulusan, kemanfaatan hidup, merasakan kelezatan beribada dan lain sebagainya.
Jadi, jelaslah, dalam menjalankan usaha, begitu pun dalam tema besar-kecilnya rezeki yang paling penting bukan hanya sekedar besar kecilnya usaha. Sebab, berapa banyak usaha yang besar tapi hasilnya kecil. Dan berapa banyak usaha kecil tapi hasilnya besar. Berapa banyak hasil besar tapi tidak mencukupi dan berapa banyak hasil yang kecil tapi memberi kecukupan. Apa yang membedakan itu semua? Tak lain keberkahan rezeki, bukan besarnya keuntungan.

Banyak orang yang keuntungannya sedikit, namun Allah memasukkan kekayaan lain di dalam hatinya. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang memiliki keuntungannya banyak, namun Allah mencabut keberkahan dari hartanya, sehingga betapapun banyaknya harta yang dimiliki, ia seperti menenggak air laut, tidak akan pernah merasa puas dan cukup dari anugrah tersebut. Malah akan bertambah dahaga. Parahnya lagi bila harta itu justru malah memikat datangnya badai rumah tangga, kejatuhan dalam keimanan juga dalam hidupnya.

Ingatlah sahabat, apapun bentuk usahanya ,jadikan lah keberkahan sebagai labanya. Fahami lah! laba itu bukan untung yang besar. Bukan hasil yang raksasa. Apalagi untung yang kecil. Ingat lah selalu bahwa keberkahan adalah inti dari semua tema tentang keuntungan. Keberkahan adalah laba itu sendiri. Keuntungan yang sebenar-benarnya keuntungan.

Postingan ini ditulis oleh :

Aa Djamaludin

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*