Curahan Hati

Laptop Dari Surga: Kematian Diantara Kulit Dan Isi II

Saat teringat janji soal laptop, aku sedih karena keinginan kakaknya untuk membelikan barang penting yang cukup mahal itu belum tercapai, tapi maut telah memisahkan mereka. Apalagi profesi almarhum kakak sebagai guru swasta, aku tidak terlalu yakin ia sudah memiliki tabungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan adik.

November 2014

Tapi Allah berkeinginan yang lain. Allah selalu saja punya cara untuk mengajarkan setiap realitas adalah ayat-ayat cinta bagi siapa saja. Itu tampak pada suatu hari di bulan November yang membuat siapa pun terenyuh. Ketika kematian sebagai guru yang diam datang, diam-diam mewujudkan mimpi masa lalu dengan caranya sendiri dan membuat siapa pun terbelalak :
“Mbak, temani aku beli laptop ya. Pilihkan yang menurut Mbak terbaik?”, kata si adik.
Aku terkejut. “Bukankah terbaik itu identik dengan termahal ya? Lantas dapat dari mana uang untuk membeli laptop itu? ” begitu dalam keingintahuan mengaduk-aduk perasaanku.
“Ini uang almarhum kakakku, Ibuku memberikan sebagian untuk beli laptopku, kata Ibu beli yang bagus sekalian, buat kenang-kenangan agar almarhum kakak senang, karena akhirnya keinginannya terkabulkan. Bukan itu saja, setiap kamu gunakan laptop ini untuk kebaikan pahalanya akan mengalir ke almarhum.”

Aku belum mengerti dari mana ia mendapat uang itu? Kalau memang itu uang almarhum dari mana ia memperolehnya? Apa itu tabungan rahasia almarhum? Kalau pun tabungan rahasia kenapa juga harus menunggu ia wafat hanya sekedar untuk memenuhi keinginan adik. Tapi keingintahuan itu terjawab saat dia menjelaskan, “Kakak mendapat santunan dari Jasa Raharja 25 juta rupiah,”

Aku baru mengerti rupanya uang itu bukan tabungan rahasia almarhum itu uang santunan yang di dapat dari Jasa Raharja. Setiap pengguna jalan yang mengalami kecelakaan di jalan raya. Insya Allah akan mendapat asuransi dengan besaran dan tingkat kecelakaan masing-masing. Lantas aku segera menemaninya ke salah satu toko komputer. Setelah proses pembelian dan instal program selama kurang lebih tiga jam, akhirnya laptop baru itu kami bawa pulang.

Alhamdulilah..

Aku terharu. Betapa cinta sejati dan kesungguhan niat baik selalu mendapatkan jalan dari Allah. Sekalipun maut telah memisahkan. Betapa niat baik akan selalu di wujudkan tapi dengan cara yang tak pernah terjangkau logika kemanusiaan kita yang tak seberapa.

Siapa yang tidak terharu. Untuk sebuah keinginan adik, seorang kakak rela berkerja keras bahkan ketika kerja keras nya itu belum mampu untuk mewujudkan keinginan si adik selagi ia hidup, kematiannya malah mampu mewujudkan keinginan si adik.

Aku tak kuat menahan air mata mengingat itu.

Tapi ini hanya   tafsir dari sebuah sudut saja. Mungkin, jika disuruh memilih, tidak akan ada adik yang mau menukarkan nyawa kakaknya dengan sebuah laptop atau uang asuransi. Tidak ada saudara atau orang yang terkasih yang ingin menggadaikan ruh saudaranya untuk sebuah impian sepihak. Malah banyak orang yang ingin menukarkan semua kekayaan duniawiyahnya untuk mengembalikan orang-orang terkasih yang telah kembali ke alam sana.

Sekali lagi ini bukan sekedar laptop bagi sebagian orang mungkin soal yang murah dan remeh. Tapi ini berkaitan dengan cinta ilahiyah dari sang kakak yang ketika hidup berjuang sungguh sungguh untuk kebaikan sang adik. Tapi walau sudah sungguh sungguh, ada sebagian mimpi yang belum tercapai. Tapi kematiannya dan cinta ilahiyah yang besar itu malah mewujudkan mimpi itu. Sungguh menyentuh!

Tak ada yang ingin mencicipi kepahitan itu. Tetapi maut adalah keniscayaan, Allah pemilik semua ruh telah menuliskan jadwal kematian tiap orang dan tiada seorang pun dapat mengingkarinya.

Bagi orang yang ditinggalkan, maut bisa jadi musibah yang sangat memilukan, menyayat hari dan mencairkan hati . Tetapi, di balik ketiadaan itu sering kali Allah menitipkan anugerah indah yang tidak terduga. Hanya hati yang bersedia membeningkan diri yang mampu memetik hikmah dari semua itu. Hanya hati lembut yang selalu diliputi keimanan, yang dapat menerimanya dengan penuh syukur, tanpa sesal, tanpa ratap.

Berbaik-baiklah dan dan saling mengasihi karena kita ada untuk tiada. Maka ketika kita ada gunakanlah untuk menjadi bermakna. Sebab ingatan tentang makna itu yang akan di bawa pergi dan terpahat dalam kenangan mereka yang kita tinggali.

Hanya sesaat kita tinggal. Sesaat kita datang untuk pergi atau pergi hanya untuk kemudian sekedar singgah lagi. Lalu masing-masing kita akan sungguh pergi untuk tiada pernah kembali. Berbaik-baik lah dan saling mengasihi karena kebaikan itu abadi.

(Dikonstruksi ulang dari tulisan Zulfa Nh)

Postingan ini ditulis oleh :

Aa Djamaludin

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*