Hikmah

Formalin Cinta II

Dan tak pernah ada kesejatian cinta jika tanpa di rubung lalat

Seperti halnya ketika sepasang suami istri saling sendiri tatkala jarak mengantarai. maka sendiri itu adalah lalat. Lalat-lalat ujian yang terbang merubung waktumu. Dimana kesunyian datang begitu manja. Seperti angin yang membelai lembut. Lalu ketika kehampaan itu datang engkau baru menyadari bahwa kita tengah tersudut dalam sunyi. Sepi yang mati. Yang ketika kita gerakan tangan, tetap merasa sunyi. Lalu membunuh waktu dengan sibuk berkerja dan berkerja. Dari matahari terbit hingga mata kita terbenam di tengah malam kita tetap merasa sepi. Lantas esoknya ketika kita bangun sepi itu masih setia mengajak kita bercengkrama. Begitu terus setiap hari, sunyi itu tak pernah pergi. Ia malah menambah gulitakan hari-hari sepi. Dan kita seperti mati

Lalu datang seekor lalat jantan atau betina yang begitu menarik. Kepak sayapnya terdengar mendengung dan berkecipak. Menawarkan kita untuk bersama sama mengepakkan Sayap. Itu adalah saat kesejatian diuji. Ketika itu banyaklah beristigfar, insya Allah istigfar akan mengingatkan bahwa tak pernah ada kesejatian cinta jika tanpa dirubung lalat.

Pertengkaran, ketidakmengertian dan sifat buruk lain adalah lalat, begitu juga keegoisan, kita merasa bahwa kita lah yang berdarah darah mencari nafkah, padahal Allah lah yang memberi. Bukan doa dan kerja keras itu, yang menghasilkan semua pencapaian duniawi. Semua sudah di atur dalam barisan yang tersusun rapi di lauhil mahfudz sana, sebuah “pohon kehidupan” dimana otot, tulang dan sel-sel takdir seluruh kehidupan manusia tercantum.

Ketahuilah satu helai daun lauhil mahfudz itu lebih luas dari jalan kehidupan kita. Lebih luas dari anggapan sempit kita tentang rezeki dan cinta. Maka apakah sebuah kewajaran jika terus memelihara keegoisan kepada pasangan yang masih dhaif mencari rezeki sementara kewajiban kita sebagai ayah atau ibu belumlah sempurna?

Dalam kondisi seperti ini formalin untuk cinta menjadi penting. ia akan membunuh lalat-lalat atau kuman-kuman yang berusaha menggerus atau membusuki cinta itu. Ada 3 anasir yang dapat menjadi formalin dari cinta. Pertama, sakinah secara sederhana bermakna ketenangan. Suatu hubungan harus menenangkan dan memberi ketenangan untuk semua pihak. Baik istri suami atau keluarga besar masing-masing. Ketenangan ini juga bukan berdasarkan mata syahwat dan tidak didasarkan matematika cinta manusia yang selalu berujung logika keduniaan. “Ah dia juga ngga kasih ketenangan. Buat apa juga kita bikin dia tenang,” bukan itu dasarnya. Tapi dibangun oleh niat penghambaan kepada Allah.

“Aku memberi ketenangan pada orang karena Allah menyuruh itu. Bukan karena ingin menenangkan manusia tapi aku ingin menyenangkan Allah. Aku tak takut pasanganku atau siapapun bersikap tidak harmonis atau tidak menenangkan aku. Karena yang aku takut adalah ketika aku tidak menenangkan orang atau tidak menenangkan pasanganku, itu akan merusak keharmonisan hubunganku dengan Allah.“ Prinsif inilah yang harus menjadi dasar. Inilah yang termaktub dalam al Qur’an (Surat 30 : ayat 21) litaskunuu ilaha, untuk saling menentramkan.

Satu hal yang harus membuat kita banyak istigfar adalah ketika masing masing sibuk mengadu pada Allah untuk mengkisahkan keburukkan pasangan tapi lupa akan keburukan sendiri. Beristigfarlah! Karena tak pernah ada keburukan yang berdiri sendiri

Kedua, adalah mawaddah, secara harfiyah bermakna cinta yang menggebu-gebu, cinta yang bersifat fisik, lahiriyah atau cinta yang membuat kita mencintai pasangan hingga ubun-ubun kita sampai “ngebul. “Tapi saya tidak Ngebul oleh cinta? Abis pasangan saya banyak buruknya. Banyak kurangnya.” Begitu alasan sebagian orang. Ingatlah! Ketika kita membesarkan keburukan seseorang maka kebaikan kita di Mata Allah akan mengecil.

Seperti lalat mencium bangkai kelak siapa pun pasangannya baru mencium bau busuknya kelak, ketika ia yang terlihat paling baik itu mulai tampak tidak baik. Ia yang awalnya tampak sempurna lalu perlahan waktu menelanjangi aib nya, melucuti topengya. Maka membanding bandingkan kekurangan pasangan adalah lalat. Sebab tiada satu pun di muka langit dan di perut bumi yang sempurna. Hanya Allah lah Yang Maha dalam Kesempurnaan Nya. lantas ketika ketidaksempurnaan itu menjadikan alasan untuk memulai hubungan dengan orang lain yang lebih baik darinya, itu juga adalah lalat.

Bertahan dalam ketikdaksempurnaan lalu mensyukuri kekurangan itu dengan semangat untuk saling memberi kebaikan adalah lebih menakjubkan dari pada mencari pasangan baru yang terlihat sempurna. Padahal ketidaksempurnaannya tengah disembunyi waktu. Percayalah tak ada pasangan sempurna dan tak pernah ada hubungan yang sempurna. Karena ketikdaksempurnaan itu memang takdir kita. Sebab hanya Allah SWT yang Maha Sempurna

Unsur yang ketiga dalam formalin cinta adalah Rahmah. Menurut ibnu Faris kata rahmah dibangun atas huruf ra, ha, dan mim gabungan huruf yang identic dengan kelemah-lembutan, kasih dan lain-lain. Rahmah dapat juga dimaknai ampunan, anugerah, belas sayang, cenderung melayani, dan berkorban. Ini pancaran cinta kasih yang melampaui, mengingkat dan melandasi dua anasir cinta di atas.

Inilah cinta ilahiyah. Dimana kita mencinta pasangan karena Allah menyuruh itu. Kita merasa rasa sayang itu dari Allah. Jadi tak perduli kasih sayang yang kita terima itu besar atau kecil. Yang menjadi luar biasa adalah yang memberikan kasih sayang itu Allah. Coba siapa sih yang ngga senang kalau yang memberi sayang itu Allah. Tuhan, Maha Raja alam semesta. Orang dikasih senyum dan foto bareng sama ustadz beken saja sudah senang. Lebih girang lagi kalau ustadz beken dan ganteng kasih kita sayang atau cinta. Apalagi ini? di kasih cinta sama Allah. Siapa yang ngga senang? Allahu Akbar..

Maka fahami baik-baik tiga anasir dari formalin cinta ini. Syukurilah semua cinta itu. Jadilah pribadi yang siap terlebih dahulu mengalah dan meminta maaf demi keutuhan temali kasih. Jangan lupa untuk saling cinta karena Allah dan bersungguh sungguh. Sehingga Allah melupakan kita bahkan untuk sekedar mengingat kata pisah.

Penulis: Aa Djamaludin

Postingan ini ditulis oleh :

Aa Djamaludin

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*