Curahan Hati

Begitu Juga Jin, Begitu juga Malaikat…

Sepakatkah anda jika Kita bikin konvensi baru: manis kita sebut asin, asin kita sebut manis. Atau gula kita sebut garam, garam kita sebut gula. Itu kan cuma soal nomenklatuur. Cuma soal klasifikasi saja!

Tapi menurut ilmu pengtahuan tidak “cantik” kalau begitu. Matematikanya gula ya harus manis. Dan filsafatnya garam wajib asin. Tidak bisa gula disunahkan menjadi kecut atau garam dimubahkan menjadi manis. Maka bagi para sufi, ilmu pengetahuan modern mandeg di situ. Karena ilmu pengetahuan hanya menyelidiki. Menyelidiki, dengan jarak. Menyelidiki garam, menyelidiki asin. Ilmu pengetahuan tidak mengalami. Ilmu pengetahuan tidak menyatukan diri dengan yang di belakang garam dan di belakang asin.

Asin tidak bisa di-report, diinformasikan, diartikulir, diterjemahkan. Engkau tidak bisa memberitahukan kepada seseorang yang lidahnya hampa dari radar rasa bagaimana rasa asin. Ia harus mengalaminya sendiri

Begitu juga jin… begitu juga malaikat.

Untuk memahami pembahasan lebih lanjut tentang hal ini. Mari kita ngaji bersama Dalam “KSatria Jin, Malaikat dan Putri BMI” Insya Allah di adakan di Fortress Hill Hong Kong 24 Mei 2015

Postingan ini ditulis oleh :

Aa Djamaludin

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*